Cilegon – Wakil Walikota Cilegon Fajar Hadi Prabowo menegaskan pentingnya sinergi antara dunia usaha, pekerja, dan pemerintah dalam menjaga stabilitas serta pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal itu disampaikan saat menghadiri Pengukuhan & Rapat Kerja Konsultasi Kota (Rakerkonkot) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Cilegon, Selasa, (26/08/2025).
Dalam sambutannya, Fajar Hadi Prabowo mengingatkan bahwa perekonomian Cilegon harus terus tumbuh dan tidak boleh sakit. Ia mengakui keberadaan industri dan UMKM menjadi penopang utama perekonomian nasional, sekaligus faktor penting dalam menjaga kondusivitas sosial masyarakat.
“Ekonomi kita tidak boleh sakit. Perekonomian Kota Cilegon harus terus tumbuh. Negara kita ditopang oleh ekonomi kecil, UMKM, dan usaha-usaha rakyat. Buktinya saat pandemi Covid-19, perekonomian terganggu karena pedagang kecil tidak bisa berjualan. Tapi saat krisis 2018, UMKM tetap berjalan,” ujarnya.
Fajar juga menekankan pentingnya inovasi dan kesiapan menghadapi tantangan global. Ia meminta APINDO tidak hanya berperan menjaga kepentingan dunia usaha di Cilegon, tetapi juga mendukung visi nasional Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kemandirian dan pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, Fajar mengingatkan agar hubungan industrial antara perusahaan, pekerja, dan pemerintah terus dijaga secara harmonis. Menurutnya, Pemkot Cilegon siap memfasilitasi dan mempercepat proses perizinan yang selama ini dikeluhkan investor.
“Kami sudah diamanatkan, jangan sampai yang susah dipersulit. Kalau bisa yang susah dipermudah. Pemerintah siap jemput bola demi kelancaran investasi di Cilegon. Kami berharap APINDO dapat menjadi mitra strategis Pemkot Cilegon dalam mendorong iklim investasi yang sehat, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di Kota Baja,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Apindo Kota Cilegon, Najib Hanafi, menyampaikan bahwa visi dan misi utama Apindo adalah menjaga ekonomi dan pertumbuhan ekonomi secara nasional. Najib mengakui keberadaan Apindo dapat menjadi sinergi untuk menjaga industri agar tetap produktif, kondusif, dan dapat menjalankan kegiatan bisnisnya dengan baik.
“Kalau Apindo tidak mampu menjaga hal ini, maka dampaknya besar. Perusahaan bisa berhenti berproduksi, yang akhirnya memicu PHK. Padahal ada dua kepentingan utama yang dijalankan Apindo, yaitu mencegah terjadinya PHK dan mendorong terciptanya lapangan kerja baru,” ujar Najib.
Menurutnya, kesempatan kerja tidak akan tercipta jika perusahaan tidak berproduksi. Oleh karena itu, Apindo bersama Dewan Pimpinan Nasional (DPN) terus mendorong program-program sinergi dengan pemerintah, khususnya dalam pengambilan kebijakan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan industri.
Selain itu, ia juga menyoroti kondisi global saat ini, seperti perang dagang dan dominasi pasar oleh Cina, yang membuat Indonesia sering menjadi pasar sasaran. Hal ini sangat berpengaruh pada industri, terutama di Kota Cilegon yang mayoritas bergerak di sektor industri padat modal.
“Cilegon ini industrinya kebanyakan padat modal, bukan padat karya. Sementara untuk cepat mengurangi pengangguran, idealnya dengan padat karya. Tantangannya adalah kesiapan SDM kita, baik skill maupun kompetensi, yang masih perlu diperbaiki,” jelasnya.
Selain menjaga keberlanjutan industri besar, Apindo juga menaruh perhatian besar pada pengembangan UMKM. Perusahaan besar diharapkan dapat membangun kemitraan dengan UMKM sehingga tercipta fondasi ekonomi yang lebih kuat.
Najib menambahkan, pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Apindo di Bandung, mengusung slogan “Incorporated Menuju Indonesia Emas 2045”. Hal ini menjadi semangat bersama agar semua pihak tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bersatu untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi rata-rata 8 persen per tahun, sebagaimana yang dibutuhkan menuju Indonesia Emas.
“Kuartal pertama saja pertumbuhan ekonomi Indonesia baru 4,87 persen. Jadi butuh kerja keras bersama agar bisa meningkat. Tidak hanya Apindo, tapi juga organisasi lain, pemerintah, dan pelaku usaha harus berperan aktif,” katanya.
Program DPN Apindo saat ini juga menekankan kewajiban setiap industri untuk melakukan pembinaan UMKM. Melalui pelatihan-pelatihan dan pendampingan, UMKM diharapkan bisa berkembang lebih serius dan berkelanjutan.
“Di Cilegon, Apindo sudah mulai membina beberapa UMKM melalui seksi khusus yang menangani UMKM. Target kami, setiap tahun jumlah UMKM binaan harus terus tumbuh,” tutup Najib. (Dhe/Red).